Lelah Berharap, Nyatain Akhirnya (Tamat) - Hikmah Cerita
Setelah
menutup percakapan itu, aku hapus nomer dia, aku blokir line dia. Aku usahakan
tidak ada kontak jejak-jejak dia, tapi tidak terfikirkan untuk unfollow atau
blokir twitternya juga. Karna toh buat apa bukannya aku akan menerima skenario
terburuknya. Kalau aku ga bilang ke dia bukannya kita bakal baik-baik aja di
twitter. Baik-baik dalam artian ga tegur sapa juga kan ya. Jadi di twitter
biarin aja kya gitu seperti biasanya aja.
Sedih sih
campur-campur rasanya saat itu. Lega ada, senang ada, sedih ada, marah ada,
kecewa apalagi. Kecewa karna kenapa harus dia yang ngelakuin hal yang sejelek
itu, kok bisa dia sekasar itu sama perempuan. Satu sisi lain aku lega karna
akhirnya aku berani juga buat ngutarain semuanya. Aku lega akhirnya aku bisa
berdamai dengan diri aku untuk sama-sama mau bebas dari perasan yang sudah
terlalu lama ini. Senang karna aku akhirnya tau ternyata setidak pantas itu dia
buat aku. Aku senang jadi tau dia yang sekarang dia yang punya sisi negatif
yang ternyata selama ini Allah melindungi aku, Allah sayang banget sama aku.
Jadi ini kenapa Allah tidak mempertemukan aku dengan dia lagi. Ini jadi jawaban
yang lebih dari cukup buat aku untuk menyudahi perasaan yang terlalu lelah ini.
Sedih karna aku merasa tidak dihargai, aku berharap baik terhadap dia tapi dianya,
yasudahlah. Marah karna aku ga terima kenapa harus dia yang ngelakuin itu,
kenapa dia sejahat itu, kenapa dia se “lemes”
itu, kenapa dia ga sedewasa itu, kenapa dia tidak seperti bayangan aku yang
religius yang harusnya dia paham akan menghargai perempuan juga diajarkan dalam
agama, dimana dia yang baik, yang cerdas, yang dewasa, yang sangat menghormati
perempuan, pendengar yang baik, sudah sejauh ini kah dia berubah? Terlalu
banyak tanya-tanya dalam pikiran aku. Aku marah harus mengakui itu. Aku marah
ga nemuin dia yang dulu versi yang aku kenal dalam obrolan sebentar itu. Tapi
yaudah makin lama aku pikirin jawabannya yaudah aja. Mungkin itu proses
hidupnya dia yang bikin dia akhirnya jadi seperti sekarang. 9 tahun itu waktu
yang lama, pasti banyak kejadian di dalam sana yang udah dia lewati, aku juga gatau
secara pasti peristiwa-peristiwa apa aja dalam proses hidupnya dia. Tapi aku
tetap yakin jauh di dalam sana dia masih orang yang sangat baik, sama seperti
dulu. Tapi aku juga harus terima dan ikhlasin aja. Dia orang yang punya
kepribadian yang baik sangat baik malah tapi kebaikannya bukan untuk aku biarin
aja kebaikannya untuk orang lain.
Aku jadi tau
ternyata aku suka ke dia karna dia dulu orangnya sangat baik. Setelah tau dia
yang sekarang telah berubah perasaan itu tanpa harus melakukan usaha yang
berlebih perlahan akhirnya pun menghilang. Mungkin ini juga untungnya buat aku,
aku jadi bisa lupain perasaan yang berlebih ke dia. Aku senang akhirnya tidak
ada rindu yang berlebih untuk orang yang sama skali ga mikirin aku. Makasih ya
buat hati aku sudah mau bertahan lamaaa banget untuk tetap menjaga namanya
terukir di sana. Agak lebay sih sebut terukir tapi apa lagi ya kata ganti
terukir? Bingung.
Sebuah
pelajaran yang panjaang namun berharga banget buat aku. Aku belajar buat jujur
dengan diri aku dan menikmati apapun setiap prosenya. Kalo ditanya rekomen ga
sih cewe nyatain duluan? Hmm.. kalo boleh saran gausah aja. Sebenarnya kita
kaum perempuan sudah dianugrahi daya analisis yang jeli banget yang dibantu
dengan kepekaan kita. Namun, kadang kita suka menolak kesimpulan analisis kita.
Kalau masalah suka-sukaan dari semua ini aku ngerasa kalo emang doi juga
tertarik bahkan suka sama kita pasti dia akan datang tetep nyariin juga, tapi
kalo enggak sama sekali mundur aja jangan menyakiti hati terlalu lama.
Untuk lebih yakin lagi mending GAUSAH AJA. kalau dia ga pernah ada kabar duluan ke kamu, dateng jarang-jarang (banget), selalu kamu yang mulai obrolan, sudah jelas dan terima aja. Gausah aja ya. Kamu berhak dapat yang lebih baik :).
