Lelah Berharap, Nyatain Akhirnya (Part II)
Tanpa
basa-basi aku langsung mengutarakan semua perasaan yang selama ini aku rasakan
tentang dia. Ada 3 kolom pesan yang aku kirim, kolom pertama berisi pembuka dan
isi pesan. Kolom ke dua aku lupa. Kolom ke tiga isinya penutup, maaf kalo ada
salah dan terima kasih untuk akhir kalimat. Intinya dari pesan itu tidak ada
kalimat yang memiliki makna memojokkan dia, merendahkan dia, atau menghakimi
dia, ga ada. Aku hanya mengutarakan perasaan aku ke dia selama ini yang
tentunya setiap pernyataan itu ga aku cantumin unsur-unsur negatif tentang dia.
Ya aku suka kan ya, positif dong ngapain juga saat mengutarakan cinta-cinta gitu
ada dicantumin jelek-jelek tentang doi kan enggak kawan! Ya jeleknya aja aku
ga tau. Aku sudah terdustakan, dibutakan dengan perasaan suka-suka ini.
Setelah
pesan itu terkirim, 1 menit kemudian langsung dibaca. Dan tentu saja aku malu.
MALU BANGET. Aku langsung cepat-cepat uninstal
twitter dan memutuskan untuk tidak mau tau apa tanggapan dia. Berusaha menenangkan
diri membuat kata-kata positif dalam diri dan aku tertidur kebetulan
waktu telah menunjukkan 00.47 WIT.
Keesokan
harinya aku cerita ke temen baik aku, dan dia menyarankan untuk instal twitter lagi karna dia juga
penasaran apa tanggapan doi. Aku juga penasaran sih tangapan dia tapi lebih
ke malu jadi penasarannya ga terlalu dominan. Karna didukung teman aku, aku pun
menginstal twitter kembali dan ku bacakan balasan dari dia.
“Hahaha,
Puspita saudaranya Mawar kan?, Waduh bakal gimana nih”. Balasan si doi.
Tidak lama
dari saling balas dirrect message dia
minta nomer whatsapp aku. Aku ngasih dong ya. Tapi aku ga ngerasa
senang dengan respon dia. Yang aku pikirin kalo sampai minta kontak
berarti dia ngartiin lebih, ya memang lebih juga sih obrolan ini. Cuma
maksudnya respon di chat DM itu aja udah cukup. Feeling aku sih lebih ke deep
talking bentuk shock culture deh
kayanya nih.
Malamnya
pukul 01.30 WIT dia telfon di whatsapp dan telfon biasa. Tapi aku ngantuk
banget waktu itu aku ketiduran padahal udah duga aku bakal ditelfon malam ini
tapi aku memilih tidur aja. Besok paginya aku liat list panggilan tak terjawab, yakin aku nomer ga dikenal ini si doi.
Aku save nomer dia dan bener aja
emang itu dia di photo profile whatsappnya. Setelah itu aku chat dia
dan bilang tadi malam udah tidur. Dan seperti dugaan aku dia hanya membaca
tanpa membalas. Feeling aku semakin
kuat semakin mengarah ke bakal ada perdebatan nih nantinya.
“Siapa nih?” (ketus).
Wah siapa,
lah yang dia minta nomer kemarin tu siapa? Mbak-mbak Primagama? (dalam
hatiku)”. Shock kata sapaannya gitu.
Untuk sebuah pertemanan yang pernah ada di waktu yang lampau (pertemanan yang
dianggap oleh satu pihak aja ternyata), yang mana kedua teman ini sudah lama
dan sangat lama tidak pernah saling menyapa. Kata pertama yang dipilih untuk menyapa adalah “siapa nih” dengan kalimat tanya yang didukung tidak ikhlas
dengan suara yang tinggi serta tone
suara yang cenderung menciptakan kesan ketus.
“Lah yang
nelfon kemarin kan kamu”. Kataku.
“Ih,
maksud?”. Kata dia.
“Bukannya
kemarin kamu yang nelf...” (dipotong). Kataku.
”Ih ih ih
maksud?” (sambil cekakak cekikik ngejek). Kata dia.
“Oke deh”.
Kataku mengakhiri sapaan hangat ini.
“Ih ih ih
gimana sih. Gini ya ini tuh maksudnya apa. Hai, apa kabar? (membaca kelanjutan
pesan aku di DM secara jelas dan lantang yang ditangkap secara langsung oleh indera
pendengaran aku dan indera-indera aku lainnya ikut merespon merasakan dampak
dari si indera dengar ini. Aku sejenak berada dalam review tulisan perasaan aku yang secara hidup-hidup dan sangat
sadar aku dengar dengan detail). Makasih guys reviewnya.
“Seharusnya
tuh kamu assalamualaikum dulu, apa kabar gitu kek? Nanya tips dan trik CPNS
gitu kek kan bisa”. Si dia ngegas gas teroos.
Lah kok
cpns? Ini dia tau aku mau ikut cpns apa gimana? Apa dia maksudnya mau ngasih
tau dia sekarang PNS? Ini kan ceritanya nih ya kita baru menyapa yang harusnya
lagi saling ga tau kabar masing-masing kan. Berarti dia sadar bukan aku ga tau
pekerjaannya dia apa? PNS? Minta diselamatin apa gimana nih kaks. Oke,
Selamaatt jaya jaya... Oiya terus juga buat apa ya aku basa-basi. Orang cuma
mau bilang aja kok. Biar cepet selesai aja. Lagian kalo aku basa-basi gitu kamu
bakal balas secepat itu kan tidak. Buat apa ngulur-ngulur waktu untuk hal ini
yang udah aku ulur hampir 1 dekade. Udah ga perlu kaks (jawab aku dalam hati).
“Aku cuma
mau bilang aja, nanya juga enggak. Aku cuma mau mengakhiri pers...”
(dipotong lagi kan). Aku yang mencoba menjelaskan.
“Mengakhiri
apa? Mengakhiri komunikasi?”. Tanya dia.
Komunikasi?
Emang kita punya gitu komunikasi. Enggak hey! Mabok kayanya ni orang (dalam
hati aja ni ya aku ngomongnya).
“Oke, aku
minta maaf. Maaf kalo menurut kamu aku salah”. Jawab aku yang sudah capek
denger doi yang bertingkah. Ingin mengakhiri dengan cepat perdebatan yang
hangat angan-angan ini.
“Kamu suka
aku kenapa emang?”. Nanya doi akhirnya.
Wadoh minta
dipuja dia. Aku jawab aja,
“Ga tau,
suka aja”.
“Pasti kamu
senang kan aku nanya nomer kamu di DM? pasti belum pernah kan ada yang minta
nomer kamu di DM?”. Tanya dengan ketus sekali pujaan hati 1 dekade ini.
Pengeeeen banget langsung matiin tapi aku ga pengen mengakhiri kaya anak remaja baru puber gitu. Ku dengar dengan sabar pelan-pelan, anak cantik, baik hati, solehah dengarkan dia pelan-pelan.
Pengeeeen banget langsung matiin tapi aku ga pengen mengakhiri kaya anak remaja baru puber gitu. Ku dengar dengan sabar pelan-pelan, anak cantik, baik hati, solehah dengarkan dia pelan-pelan.
“Oke deh,
yaudah ya” (usaha aku mengakhiri bincang-bincang artis dan fansnya).
“Iya, sukses
ya”. Jawab si baik hati (dulu).
“Iya kamu
juga, aamiin”. Jawab aku yang mengiyakan katanya.
“Anggap ini
ga pernah ya?” (tiba-tiba dia mulai lagi).
Ya Allah
mahluk apa ini yang ada disebalah sana, toloooong. Mudah sekali berkata seperti
itu. Anggap ga pernah itu terserah kamu ngapain pake ditanyain. Menurut ngana
aku bakal lupain ini semua gitu? ENGGAK WOY! Kalau ga inget pernah bilang
ini aku ga bakal tau negatif kamu kaya gini! (kataku masih dalam hati yang keciiiiiil
banget, hati yang besar udah rapuh soalnya).
“Boleh,
assalamualaikum”. Kataku ini tolonglah akhiri yang bener.
“Waalaikumsalam”.
Balas doi yang pengen aku jitak.
Emang minta dijitak dianya! Jangan tapi shayang (dulu).
*bersambung dulu ya (ala- ala)*
