Monday, May 11, 2020

Tanpa basa-basi aku langsung mengutarakan semua perasaan yang selama ini aku rasakan tentang dia. Ada 3 kolom pesan yang aku kirim, kolom pertama berisi pembuka dan isi pesan. Kolom ke dua aku lupa. Kolom ke tiga isinya penutup, maaf kalo ada salah dan terima kasih untuk akhir kalimat. Intinya dari pesan itu tidak ada kalimat yang memiliki makna memojokkan dia, merendahkan dia, atau menghakimi dia, ga ada. Aku hanya mengutarakan perasaan aku ke dia selama ini yang tentunya setiap pernyataan itu ga aku cantumin unsur-unsur negatif tentang dia. Ya aku suka kan ya, positif dong ngapain juga saat mengutarakan cinta-cinta gitu ada dicantumin jelek-jelek tentang doi kan enggak kawan! Ya jeleknya aja aku ga tau. Aku sudah terdustakan, dibutakan dengan perasaan suka-suka ini.

Setelah pesan itu terkirim, 1 menit kemudian langsung dibaca. Dan tentu saja aku malu. MALU BANGET. Aku langsung cepat-cepat uninstal twitter dan memutuskan untuk tidak mau tau apa tanggapan dia. Berusaha menenangkan diri membuat kata-kata positif dalam diri dan aku tertidur kebetulan waktu telah menunjukkan 00.47 WIT.

Keesokan harinya aku cerita ke temen baik aku, dan dia menyarankan untuk instal twitter lagi karna dia juga penasaran apa tanggapan doi. Aku juga penasaran sih tangapan dia tapi lebih ke malu jadi penasarannya ga terlalu dominan. Karna didukung teman aku, aku pun menginstal twitter kembali dan ku bacakan balasan dari dia.

“Hahaha, Puspita saudaranya Mawar kan?, Waduh bakal gimana nih”. Balasan si doi.

Tidak lama dari saling balas dirrect message dia minta nomer whatsapp aku. Aku ngasih dong ya. Tapi aku ga ngerasa senang dengan respon dia. Yang aku pikirin kalo sampai minta kontak berarti dia ngartiin lebih, ya memang lebih juga sih obrolan ini. Cuma maksudnya respon di chat DM itu aja udah cukup. Feeling aku sih lebih ke deep talking bentuk shock culture deh kayanya nih.

Malamnya pukul 01.30 WIT dia telfon di whatsapp dan telfon biasa. Tapi aku ngantuk banget waktu itu aku ketiduran padahal udah duga aku bakal ditelfon malam ini tapi aku memilih tidur aja. Besok paginya aku liat list panggilan tak terjawab, yakin aku nomer ga dikenal ini si doi. Aku save nomer dia dan bener aja emang itu dia di photo profile whatsappnya. Setelah itu aku chat dia dan bilang tadi malam udah tidur. Dan seperti dugaan aku dia hanya membaca tanpa membalas. Feeling aku semakin kuat semakin mengarah ke bakal ada perdebatan nih nantinya.

Malam hariya aku berniat untuk menunggu di waktu yang sama dan ga akan tidur. Aku tungguin telfonnya. Jam demi jam aku hitung untuk sampai ke pukul 01.30 WIT. Lamaaa banget rasanya. Sambil nunggu aku nonton drama korea biar ga kerasa lamanya, tapi sama aja tetap lama banget. Sampai pukul 01.00 WIT ga ada tuh telfon masuk. 01.30 WIT juga ga ada telfon. Hingga aku putuskan untuk menunggu sampai pukul 02.00 WIT.  Kalau dia ga telfon juga, aku yang akan telfon dia. Jam 02.00 WIT dia ga telfon. Aku kumpulkan tenaga dan keberanian untuk menelfon dia. Tarik napas panjang-panjang, penuhi rongga-rongga dada, hembuskan pelan-pelan, aku susun kalimat demi kalimat dalam menjawab yang aku usahakan untuk tidak terpancing meninggikan intonasi jika nantinya ada kemunculan “gas-gas” dari seberang. Ga lama tut... tut... tut... eh diangkat,


“Siapa nih?” (ketus).

Wah siapa, lah yang dia minta nomer kemarin tu siapa? Mbak-mbak Primagama? (dalam hatiku)”. Shock kata sapaannya gitu. Untuk sebuah pertemanan yang pernah ada di waktu yang lampau (pertemanan yang dianggap oleh satu pihak aja ternyata), yang mana kedua teman ini sudah lama dan sangat lama tidak pernah saling menyapa. Kata pertama yang dipilih untuk menyapa adalah “siapa nih” dengan kalimat tanya yang didukung tidak ikhlas dengan suara yang tinggi serta tone suara yang cenderung menciptakan kesan ketus.

“Lah yang nelfon kemarin kan kamu”. Kataku.

“Ih, maksud?”. Kata dia.

“Bukannya kemarin kamu yang nelf...” (dipotong). Kataku.

”Ih ih ih maksud?” (sambil cekakak cekikik ngejek). Kata dia.

“Oke deh”. Kataku mengakhiri sapaan hangat ini.

“Ih ih ih gimana sih. Gini ya ini tuh maksudnya apa. Hai, apa kabar? (membaca kelanjutan pesan aku di DM secara jelas dan lantang yang ditangkap secara langsung oleh indera pendengaran aku dan indera-indera aku lainnya ikut merespon merasakan dampak dari si indera dengar ini. Aku sejenak berada dalam review tulisan perasaan aku yang secara hidup-hidup dan sangat sadar aku dengar dengan detail). Makasih guys reviewnya.

“Seharusnya tuh kamu assalamualaikum dulu, apa kabar gitu kek? Nanya tips dan trik CPNS gitu kek kan bisa”. Si dia ngegas gas teroos.

Lah kok cpns? Ini dia tau aku mau ikut cpns apa gimana? Apa dia maksudnya mau ngasih tau dia sekarang PNS? Ini kan ceritanya nih ya kita baru menyapa yang harusnya lagi saling ga tau kabar masing-masing kan. Berarti dia sadar bukan aku ga tau pekerjaannya dia apa? PNS? Minta diselamatin apa gimana nih kaks. Oke, Selamaatt jaya jaya... Oiya terus juga buat apa ya aku basa-basi. Orang cuma mau bilang aja kok. Biar cepet selesai aja. Lagian kalo aku basa-basi gitu kamu bakal balas secepat itu kan tidak. Buat apa ngulur-ngulur waktu untuk hal ini yang udah aku ulur hampir 1 dekade. Udah ga perlu kaks (jawab aku dalam hati).

“Aku cuma mau bilang aja, nanya juga enggak. Aku cuma mau mengakhiri pers...” (dipotong lagi kan). Aku yang mencoba menjelaskan.

“Mengakhiri apa? Mengakhiri komunikasi?”. Tanya dia.

Komunikasi? Emang kita punya gitu komunikasi. Enggak hey! Mabok kayanya ni orang (dalam hati aja ni ya aku ngomongnya).

“Oke, aku minta maaf. Maaf kalo menurut kamu aku salah”. Jawab aku yang sudah capek denger doi yang bertingkah. Ingin mengakhiri dengan cepat perdebatan yang hangat angan-angan ini.

“Kamu suka aku kenapa emang?”. Nanya doi akhirnya.

Wadoh minta dipuja dia. Aku jawab aja,
“Ga tau, suka aja”.

“Pasti kamu senang kan aku nanya nomer kamu di DM? pasti belum pernah kan ada yang minta nomer kamu di DM?”. Tanya dengan ketus sekali pujaan hati 1 dekade ini.

Pengeeeen banget langsung matiin tapi aku ga pengen mengakhiri kaya anak remaja baru puber gitu. Ku dengar dengan sabar pelan-pelan, anak cantik, baik hati, solehah dengarkan dia pelan-pelan.

“Oke deh, yaudah ya” (usaha aku mengakhiri bincang-bincang artis dan fansnya).

“Iya, sukses ya”. Jawab si baik hati (dulu).

“Iya kamu juga, aamiin”. Jawab aku yang mengiyakan katanya.

“Anggap ini ga pernah ya?” (tiba-tiba dia mulai lagi).

Ya Allah mahluk apa ini yang ada disebalah sana, toloooong. Mudah sekali berkata seperti itu. Anggap ga pernah itu terserah kamu ngapain pake ditanyain. Menurut ngana aku bakal lupain ini semua gitu? ENGGAK WOY! Kalau ga inget pernah bilang ini aku ga bakal tau negatif kamu kaya gini! (kataku masih dalam hati yang keciiiiiil banget, hati yang besar udah rapuh soalnya).

“Boleh, assalamualaikum”. Kataku ini tolonglah akhiri yang bener.

“Waalaikumsalam”. Balas doi yang pengen aku jitak.

Emang minta dijitak dianya! Jangan tapi shayang (dulu).

*bersambung dulu ya (ala- ala)*

story telling . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates